Kaidah Ke Dua

Ajwaf adalah jika ‘ain fi’ilnya berupa wawu yang disebutAjwaf Wawi atau berupa ya’ yang disebut dengan Ajwaf Ya’i. Adapun Naqish adalahjika lam fi’ilnya berupa ya’ yang disebut dengan Naqish ya’i atau berupa wawuyang disebut dengan Naqish Wawi.
KaidahKe dua
“إن الواو والياءإذا تحركتا وانفتح ما قبلها تقلبان ألفا نحو : قَالَ وبَاعَ و غَزَا”
“Jika ada Wawu dan Ya’ hidup dansebelumnya berupa harokat Fathah, maka diganti alif”
Contoh I’lal :
قَالَ أصله قَوَلَ، على وزن فَعَلَ، قلبت الواوألفا،  لتحركها وانفتاح ما قبلها، فصارقَالَ.
قَالَ asalnya قَوَلَ , mengikuti wazan فَعَلَ , karena ada wawu hidup dansebelumnya berupa harokat fathah, maka wawu diganti Alif, maka menjadi قَالَ .
Kaidahmempunyai tujuh syarat :
1.       Harokat Wawu dan Ya’ tersebutbukan harokat ‘Aridloh (tidak ashli), seperti : دَعَوُا القَوْمَ asalnya دَعَوْا القَوْمَ
2.       Jika keduanya bukan lam fi’il,maka sesudahnya harus berupa huruf hidup, seperti : طَوِيْلٌ
3.       Jika keduanya adalah lam fi’il,maka sesudahnya tidak boleh berupa alif atau ya’ tasydid, seperti : رَمَيَا , عَلَوِيٌّ
4.       Keduanya tidak mengikuti wazan فَعَلَ  dan فَعِلَ dan isim failnya mengikuti wazan أفْعَلُ , seperti حَوَلَ  dan isim fa’ilnya mengikuti wazan أفْعَلُ yaitu أحْوَلُ.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s